Kemenkes Sebut Robot Operasi Bedah Jarak Jauh "Robotic Telesurgery" Di RI Bisa Mulai 2025

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut robot operasi bedah jarak jauh (robotic telesurgery) ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2025.

Kemenkes Sebut Robot Operasi Bedah Jarak Jauh "Robotic Telesurgery" Di RI Bisa Mulai 2025
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut robot operasi bedah jarak jauh (robotic telesurgery) ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2025. Gambar : Mediaindonesia.com/123RF

BaperaNews - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tengah menyiapkan robot operasi bedah jarak jauh (robotic telesurgery) yang ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2025 mendatang. Teknologi canggih tersebut diharapkan bisa mendukung kegiatan operasi bedah di kawasan terpencil Indonesia.

Staf Ahli Menkes Bidang Ketahanan, Industri Obat, dan Alat Kesehatan Kemenkes Laksono Trisnantoro menjelaskan, teknis robotic telesurgery berkoordinasi dengan dokter ahli bedah yang akan jadi operator dan mengendalikan console.

Teknologi tersebut memungkinkan dokter bedah bisa melakukan operasi jarak jauh atau di lokasi yang berbeda, baik itu beda pulau maupun Negara. “Ada berbagai cara untuk meratakan pelayanan kesehatan, jadi penggunaan robotic telesurgery ini ialah salah satu cara yang Kemenkes coba lakukan” ujarnya hari Jumat 1 Juli 2022.

Laksono melanjutkan, keuntungan lain dari robotic telesurgery ialah dokter bedah tidak harus datang langsung ke kawasan terpencil, daerah bencana alam, atau daerah berkonflik untuk bisa melakukan tindakan bedah kompleks yang bisa dilakukan dokter di kawasan tersebut.

Bedah robotik jarak jauh ini dikendalikan dengan remote, posisi dokter juga akan lebih ergonomis dan tidak melelahkan, ia bisa menggerakan instrument dengan fleksibel.

Baca Juga : 37 Provinsi Indonesia: DPR Resmi Sahkan RUU DOB, Usai Pemekaran Ricuh Di Papua

Jenis operasi yang bisa dilakukan diantaranya bedah jantung, paru, pancreas, liver, ginjal, kandung kencing, prostat, kista ovarium, mioma uteri, endometriosis, dan limpa.

“Sebagai pilot project, ada dua unit robot bedah jarak jauh bermerk Sina, unit ada di RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Sardjito Yogyakarta” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dokter spesialis bedah digestif RS Hasan Sadikin Bandung Reno Budiman juga menyebut robotic telesurgery punya akurasi lebih tinggi dibanding bedah normal, namun bedah ini disarankan untuk dilakukan hanya kepada pasien dengan stadium awal, sebab jika dilakukan pada pasien dengan penyakit ganas dan menyebar ke berbagai area tubuh akan lebih susah.

“Jadi karena robotnya itu tidak gerak sendiri, harus ada operator yang mengendalikannya dan itu harus seorang dokter spesialis bedah, robot ini punya gerakan lebih akurat dan presisi sehingga pembedahan dilakukan dengan luka sekecil apapun” tuturnya.

Reno melanjutkan, saat ini pelatihan sudah dilakukan sejak Maret 2022 dengan simulator, satu orang dokter dilatih selama 20 jam, targetnya, 40 dokter bisa dilatih dalam setahun. “Platform sudah kami siapkan, praktik nayta pembedahan jarak jauhnya belum, baru tahun 2024 dan 202 ditargetkan bergulir” tutupnya.