Alasan WNA China Jadikan Batam Sebagai Markas Penipuan

Polda Kepri beberkan alasan WNA China jadikan Batam sebagai markas penipuan pemerasan modus VCS.

Alasan WNA China Jadikan Batam Sebagai Markas Penipuan
Alasan WNA China Jadikan Batam Sebagai Markas Penipuan. Gambar : Tribunbatam.id/Dok. Eko Setiawan

BaperaNews - Sejumlah WNA China ditangkap di Batam, Kepulauan Riau, atas dugaan terlibat dalam aksi pemerasan modus VCS. Alasan mereka memilih Batam menjadi sorotan karena letak geografisnya yang strategis di perbatasan.

Lokasi Batam yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura membuat Batam menjadi pilihan para pelaku, termasuk WNA China, untuk menjalankan aksi pemerasan modus VCS.

"Para pelaku dari WNA China memilih Batam karena posisinya yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia dan Singapura. Mereka mengambil keuntungan dari letak geografis ini," ungkap Wakapolda Kepri, Brigjen Asep Safrudin.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan, dengan mempertimbangkan potensi pengejaran oleh polisi, Batam, yang merupakan bagian dari Kepri, dianggap tempat yang tepat.

Faktor keberadaan berbagai pelabuhan internasional dan bandara di Batam membuat para pelaku, termasuk RRT dari WNA China, yakin dapat melarikan diri dengan mudah jika situasi mendesak.

“Para pelaku ini, yang banyak di antaranya WNA China, menghitung bahwa jika mereka ditemukan oleh polisi, mereka bisa melarikan diri dengan mudah dari Batam. Pelabuhan laut internasional dan bandara yang banyak ada di Batam memudahkan mereka untuk melarikan diri," tambah Asep.

Berdasarkan koordinasi dengan Imigrasi, diketahui bahwa WNA China ini masuk ke Batam dengan prosedur yang sah dan dokumen yang lengkap. 

Baca Juga : 88 WNA China Digrebek Terkait Kasus Love Scamming

"Kami sudah berdiskusi dengan Imigrasi, dan WNA China ini, yang terindikasi terlibat dalam RRT pemerasan, masuk ke Batam dengan prosedur yang sah dan dokumen yang lengkap. Oleh karena itu, mereka tidak bisa ditahan begitu saja. Pengawasan WNA di Kepri ini adalah tanggung jawab kita semua," papar Asep, menekankan pentingnya kerja sama dalam pengawasan.

Sementara itu, dalam hal kerugian, koordinasi dengan pihak kepolisian China mengungkap fakta mengejutkan.

"Hasil koordinasi dengan pihak kepolisian China mengungkap bahwa kerugian yang dialami oleh WNA China yang menjadi korban pemerasan modus vcs ini mencapai lebih dari Rp 20 miliar atau sekitar 10 ribu Yuan. Mereka baru beroperasi selama dua bulan di Kepri," kata Kombes Nasriadi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri.

Nasriadi juga mengungkapkan bahwa 88 WNA China ditangkap masuk ke Indonesia secara terpisah. Beberapa di antaranya melalui Singapura dan Jakarta, sementara lainnya langsung dari Singapura ke Batam.

"Ada variasi dalam cara kedatangan mereka. Ada yang datang dari China ke Singapura, lalu dari Singapura ke Batam. Ada juga yang datang dari China ke Jakarta, baru kemudian ke Batam," jelasnya.

Disinggung mengenai kemungkinan 88 WNA China ini sebagai korban perdagangan orang, Nasriadi menegaskan bahwa para pelaku sudah mengetahui pekerjaan yang akan mereka lakukan di Indonesia.

"Mereka telah mengetahui dan setuju dengan jenis pekerjaan tersebut sebelum datang ke Indonesia. Saat ini, kami belum memiliki bukti bahwa mereka adalah korban perdagangan orang dari negara asalnya," tuturnya.

Diharapkan masyarakat menjadi lebih waspada terhadap aksi pemerasan modus vcs dan dapat melindungi diri dari potensi kerugian lebih lanjut. 

Baca Juga : Ngaku Disekap, Wanita Sukabumi Tutupi Pekerjaan Open BO