AS Balas Serangan Lewat Udara di Suriah dan Irak

Amerika melakukan serangan dengan menggempur 85 titik di Irak dan Suriah, yang didukung oleh militan Iran. Simak selengkapnya di sini!

AS Balas Serangan Lewat Udara di Suriah dan Irak
AS Balas Serangan Lewat Udara di Suriah dan Irak. Gambar : Dok. Reuters

BaperaNews - Amerika Serikat melancarkan serangan udara dengan menggempur 85 titik di tujuh lokasi di Suriah dan Irak, yang didukung militan Iran pada Jumat (2/2) waktu setempat. Serangan ini dianggap sebagai respons terhadap serangkaian serangan sebelumnya yang dilakukan oleh milisi Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Pada serangan sebelumnya, militan yang didukung Iran menewaskan tiga anggota militer AS dan melukai 40 orang lainnya di Yordania. Presiden Joe Biden memberikan pernyataan bahwa serangan militer AS ini tidak akan berhenti di sini.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan konflik di Timur Tengah atau di mana pun di dunia, namun siap merespons setiap tindakan yang menyakiti warganya.

Serangan udara pada Jumat tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan serangan sebelumnya terhadap milisi yang didukung Iran selama beberapa minggu terakhir. Sebelumnya, serangan AS lebih fokus pada penyimpanan senjata atau fasilitas pelatihan.

Pemerintah AS menyampaikan bahwa serangan ini bertujuan untuk mencegah dan menghentikan serangan lebih lanjut, sambil tetap menghindari konflik skala penuh dengan Iran di wilayah yang sudah bergolak akibat agresi Israel di Gaza.

Baca Juga: Yaman di Bombardir Amerika: Memicu Bahaya Perang Dunia III

Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa serangan udara dilakukan di Irak dan Suriah, terutama menargetkan Pasukan Quds Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dan kelompok milisi yang berafiliasi.

Dalam pernyataannya, Komando Pusat AS menyebut bahwa lebih dari 85 sasaran diserang, melibatkan pesawat termasuk pembom jarak jauh yang diterbangkan dari Amerika Serikat. Serangan tersebut menggunakan lebih dari 125 amunisi presisi.

Fasilitas yang diserang mencakup operasi komando dan kendali, pusat intelijen, roket dan rudal, penyimpanan kendaraan udara tak berawak, serta fasilitas rantai pasokan logistik dan amunisi kelompok milisi yang memfasilitasi serangan terhadap pasukan AS dan koalisi.

Menanggapi serangan udara AS, Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengatakan bahwa ini adalah respons awal Amerika Serikat. Meskipun juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby menyebut serangan itu berhasil, belum ada informasi resmi tentang jumlah korban.

Letjen Douglas Sims, direktur Kepala Staf Gabungan, menjelaskan bahwa lokasi serangan dipilih dengan rencana untuk meminimalkan kemungkinan korban jiwa dari IRGC dan personel milisi lainnya. Serangan ini dilakukan segera setelah Biden bertemu dengan anggota keluarga tentara yang tewas di Yordania.

Dalam melancarkan serangan ini, pesawat pengebom B-1, yang merupakan pesawat pengebom berat jarak jauh dan dapat mengerahkan senjata presisi dan non-presisi, digunakan dalam operasi tersebut.

Baca Juga: Imbas Konflik Palestina Israel: Bocah Asal Palestina Tewas Ditikam di Amerika Serikat