Demam Keong Mewabah di Sulteng, Simak Gejalanya!

Muncul wabah baru penyakit tropis terabaikan atau NTDs (Neglected Tropical Disease) yakni demam keong, penyakit tersebut baru ditemukan di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Demam Keong Mewabah di Sulteng, Simak Gejalanya!
Gejala Demam Keong. Gambar: Pixabay.com/Dok. Victoria_Watercolor

BaperaNews - Muncul wabah baru penyakit tropis terabaikan atau NTDs (Neglected Tropical Disease) yang jadi perhatian baru pemerintah. Pemerintah berharap penyakit tropis tersebut bisa hilang di tahun 2030. Salah satu jenis penyakit tropis tersebut ialah demam keong (schistosomiasis).

Pada hari Peringatan NTDs sedunia yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan, Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes RI Maxi Rein mengungkap jika penyakit demam keong ini baru ditemukan di Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Ada penyakit lain NTDs schistosomiasis, penyakit ini Cuma ada di Sulawesi Tengah (Sulteng) yaitu di Sigi dan Ploso. Ini satu-satunya penyakit yang endemis di Asia Tenggara” tutur Maxi Rein Selasa (21/2).

Sama seperti jenis penyakit NTDs lainnya, Maxi Rein berharap demam keong ini bisa dihapus pada tahun 2023 nanti. “Kami harap tentunya demam keong ini bisa dieliminasi tahun 2030” imbuhnya.

Lalu, apa itu demam keong? dan apa gejala demam keong? Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang penyakit demam keong dan gejala demam keong, yuk simak ulasan lengkap dibawah ini tentang penyakit demam keong yang telah dirangkum oleh Tim Redaksi BaperaNews.

Apa itu Demam Keong?

Penyakit demam keong atau schistosomiasis ialah penyakit yang disebabkan cacing parasit, penyakit tropis ini sebelumnya jadi penyakit yang terabaikan di Indonesia.

Penyakit ini bisa terjadi jika ada cacing schistosomiasis masuk ke kulit seseorang yang biasanya berasal dari air terkontaminasi, nantinya, cacing akan menyebar ke seluruh organ tubuh khususnya di hati melalui pembuluh darah.

Peneliti Dicky Budiman dari Global Health Security Griffith University Australia menyebut penyakit ini jelas berbahaya jika tidak ditangani dengan benar. Gejala demam keong sendiri muncul dalam beberapa stadium.

Baca Juga : Kasus Campak Meningkat di RI, IDAI: Melonjak 32 Kali Lipat

Gejala Demam Keong

“Penyakit ini bisa jadi serius jika tidak ditangani. Ada 3 stadium yang terjadi. Di stadium awal, kulit akan terasa gatal ketika cacing menembus kulit. Stadium kedua dimulai ketika cacing dewasa bertelur yang ditandai dengan diare, demam, berat badan menurun, dan disentri. Di stadium menahun, muncul gejala kerusakan hati” jelas Dicky.

Tubuh pasien pengidap demam keong akan lemah dan perutnya membesar, jika tidak ditangani akan menyebabkan kematian.

“Pengidapnya akan lemah dan perutnya membesar. Jika tidak diobati bisa meninggal dunia. Anak yang mengalami demam keong juga akan terjadi kelainan pada pertumbuhannya dan kelemahan kognitif” pungkas Dicky.

Demam Keong Menyerang 265 orang

Lebih dari 200 di Sulteng dilaporkan terpapar demam keong. Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Siti Nadia menyebut penyakit ini sulit diberantas. “Tempat berkembang keongnya sangat kecil seperti daun, jadi sulit kita memberantasnya” ucap Siti Nadia pada Rabu (15/2) lalu.

Pemerintah sudah memiliki obat khusus yang dikirim oleh WHO (Badan kesehatan dunia) untuk pengobatan demam keong. “Ada 265 kasus demam keong, prevalensi 1,45” lanjutnya.

Demam keong menurut WHO terjadi pada wilayah tropis dan subtropics, di kawasan yang masyarakatnya kurang mampu mendapat akses air bersih dan memiliki sanitasi yang buruk.

Baca Juga : Kemenkes: Kenaikan Kasus Demam Berdarah di Indonesia Berkaitan Dengan El Nino